google-site-verification=P7_xBqiVYiiiF-RKrUhnGci1YWarSOsyrjfxeEmvUFg

Cara Islam Memandang Kesetaraan Gender

Cara Islam Memandang Kesetaraan Gender

Cara Islam Memandang Kesetaraan Gender, Kesetaraan gender merupakan satu topik yang selalu panas untuk dibahas karena tidak adanya satu titik temu pasti untuk meredakannya. Alasannya, hak dan kewajiban antara lelaki dan perempuan selalu dianggap tidak sama. Keadilan secara kasat mata selalu memihak dan menguntungkan lelaki, sementara perempuan harus dinomorduakan. Ketika lelaki mampu meraih gelar pendidikan tinggi dan karir yang sukses, perempuan masih harus bekerja hanya di 3 area: dapur, sumur, dan kasur. Sejarah seperti itu lah yang pada akhirnya membuat kaum ibu turun ke jalan menuntut sebuah persamaan.

Dilihat dari sejarahnya, ide kesetaraan gender datang setelah Revolusi Amerika pada tahun 1776 dan Revolusi Prancis pada tahun 1792. Ketika kekuasaan mulai goyang dan revolusi menjadi jalan kedua negara adidaya tersebut, para perempuan pun mengambil kesempatan mengambil bagian. Mereka memperjuangkan posisi perempuan agar lebih setara dengan lelaki di lingkup sosial. Isu gerakan inilah yang pada akhirnya diberi nama Feminisme. Gerakan yang awalnya muncul di Amerika dan Eropa ini lambat laun mulai menyebar ke seluruh dunia dan membentuk sebuah ideologi baru. (Kelengkapan sejarahnya kita bahas di artikel-artikel selanjutnya ya sobs).

Berkaitan dengan hal ini, di mata dunia Islam dianggap sebagai agama yang mengkesampingkan keberadaan perempuan. Perempuan hanya gender yang digunakan untuk mendapatkan keturunan dan pelengkap lelaki. Salah dua ketidakadilan yang melanda para perempuan Muslim adalah adanya aturan mengenai poligami dan hukum waris. Dari dua sisi inilah perempuan Muslim seringkali dianggap gender nomor dua dalam Islam. Anggapan ini tidak hanya datang dari orang-orang di luar Islam, tapi sebagain Muslimah juga menganggapnya demikian. Lalu bagaimana sebenarnya Islam memandang kesetaraan gender ini?

Cara Islam Memandang Kesetaraan Gender
Dalam Islam lelaki dan perempuan berada pada kesetaraan

Allah SWT menciptakan lelaki dan perempuan sesuai dengan kelebihan dan kekuranganya masing-masing. Kelebihan dan kekurangan ini terangkum dalam sex dan gender masing-masing. Lelaki mempunyai sisi yang lebih keras, tegas, dan kuat dan perempuan unggul dalam hal kelembutan, kepekaan, dan kerapihan. Perbedaan-perbedaan ini merupakan sifat dasar dan pemberian yang tidak bisa dirubah. Kemudian, Islam telah memberikan role kepada masing-masing gender sesuai dengan kodratnya. Contohnya, Lelaki yang memiliki fisik lebih kuat harus menjadi pelindung bagi istrinya. Perempuan yang lebih lembut harus menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Semua peran kehidupan antara lelaki dan perempuan diatur sesuai dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Islam memandang lelaki dan perempuan berada pada level yang sama. Di Mata Allah yang membedakan hanyalah taqwa. Ada amalan yang pahalanya khusus bagi lelaki dan ada pula pahala khusus bagi perempuan. Seorang lelaki mendapat keuntungan karena dapat menjalankan shalat berjamaah di masjid dengan keutamaan 27 derajatnya. Namun lelaki tidak bisa mendapatkan besarnya pahala mengandung dan menyusui seorang perempuan. Keutamaan-keutamaan ibadah ini sudah diatur sesuai dengan kemampuan, peran, dan fungsi masig-masing gender.

Pada hakikatnya Islam datang dengan membawa kesetaraan bagi lelaki dan perempuan. Islam tidak menjadikan perempuan sebagai gender kedua di bawah lelaki. (Next time kita bahas tentang hal-hal yang dianggap tidak adil dalam Islam ya sobs). Islam datang pada masa dimana perempuan tidak memiliki harga. Perempuan banyak yang dijadikan sebagai budak dan keberadaannya disamakan dengan ternak. Bayi yang terlahir perempuan merupakan sebuah aib bagi keluarga dan harus dikubur hidup-hidup. Namun, Islam datang untuk mengangkat perempuan dari diskriminasi dan penghinaan. Perempuan mendapat tempat yang layak bahkan dimuliakan. Berbagai ayat dan hadist menjadi pedoman tentang kemuliaan perempuan.

Islam sudah menyetarakan lelaki dan perempuan. Meskipun demikian perepuan Islam masih sering mempertanyakan hakikat keadilan. Hal ini menjadi wajar karena kedua belah pihak, lelaki dan perempuan, belum mengerti tentang dasar ilmu tentang masing-masing hak dan kewajiban. Contoh sederhananya bisa kita lihat dari pelecehan terhadap yang selalu dianggap salah lelaki. Padahal Allah telah memerintahkan keduanya untuk sama-sama menjaga. Perempuan menjaga dirinya dengan cara menutup aurat sebagaimana yang diperintahkan dalam QS. An Nur ayat 31. Sementara lelaki diperintahkan untuk menjaga dirinya dengan menundukkan pandangan sebagaimana yang diperintahkan pada ayat ke 30nya.

Perempuan harus menjaga auratnya karena tubuh perempuan lebih memiliki lekukan yang dapat menggoda syahwat lelaki. Keindahan tubuh perempuan merupakan sebuah kodrat yang tidak bisa dirubah. Meskipun demikian tetap harus ditutup dan tidak boleh diumbar. Sementara itu, Lelaki diwajibkan menundukkan pandangannya karena dari sanalah syahwat dapat tercipta. Kodrat lelaki merupakan makhluk yang sulit untuk mengendalikan nafsu. Namun hal ini bisa diredam dengan cara menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan.

Kesempuraan Islam dalam menyetarakan lelaki dan perempuan dapat tercipta apabila lelaki dan perempuan mengamalkan setiap aturan. Yang sering terjadi hari ini adalah keterbatasan ilmu antara lelaki dan perempuan lah yang membuat setiap permasalahan dibenturkan dengan ketidakadilan. Kesetaraan gender sudah ada di dalam Islam, namun tidak selalu ada pada umatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *