google-site-verification=P7_xBqiVYiiiF-RKrUhnGci1YWarSOsyrjfxeEmvUFg

Lelaki Metrosexual: Homo atau Bencong?

Lelaki Metrosexual: Homo atau Bencong?

Photo by Chris Blonk on Unsplash

Lelaki Metrosexual: Homo atau Bencong?, Seiring dengan perkembangan zaman, standar seorang lelaki dalam bergaya dan berpenampilan, sepertinya, telah bergeser. Tidak mandi, terpapar bau matahari, terkena debu dan polusi, wajah kusam dan kumel, dan prilaku “santuy” lainnya yang seringkali menjadi lambang maskulinitas tidak lagi berlaku bagi kebanyakan lelaki zaman “now”.Saat ini, mereka lebih senang mandi, memakai wangi-wangi, merawat diri, dan memanjakan kulit agar tetap berseri. Lelaki telah bermetamorfosa menjadi makhluk yang lebih mengedepankan tampilan dan apa kota orang. Mulai dari yang hanya sekedar memakai sabun khusus sampai kepada perawatan yang bahkan biayanya bisa lebih mahal dari perempuan kebanyakan.

Lelaki Metrosexual: Homo atau Bencong?
Beberapa contoh produk khusus lelaki metroseksual

Nowdays, Make up does not belong to women only. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya produk-produk kecantikan dengan lebel “For Men” yang dijual di pasaran. Iklan-iklan yang beredar pun seolah membuat anggapan baru bahwa lelaki berkulit cerah lebih disukai oleh para wanita.

Metroseksual menjadi arah gaya yang sangat diminati bagi para lelaki. Apa itu metroseksual? Dikutip dari laman It’s Pronounced Metrosexual (IPM), kata metroseksual pertama kali digunakan oleh seorang penulis dan jurnalis, Mark Simpson, pada tahun 1994. 26 tahun yang lalu, Simpson telah memprediksi bahwa lelaki lajang dengan penghasilan yang tinggi yang tinggal atau bekerja di daerah perkotaan akan menjadi target utama dari konsumerisme, pasar barang-barang bagus dan berkelas, dan kartu kredit. para lelaki akan terpapar konsumerisme, narsisme, dan kapitalisme. Lelaki-lelaki ini Simpson sebut dengan Metroseksual. Metro atau perkotaan menjadi pasar yang sangat menjanjikan bagi penyebaran gaya dan tren sehingga para lelaki akan dengan mudah mengikuti perkembangan yang ada. Dan hari ini, prediksi itu menjadi nyata. Banyak lelaki khususnya di kota-kota besar banyak menghabiskan uang penghasilan demi “mendempul” rupa agar terlihat lebih mempesona.

Namun, apabila kita melihat pada grand stigma masyarakat dunia, khususnya di Indonesia, mempercantik diri merupakan aktifitas yang seharusnya hanya dilakukan oleh para perempuan. Kebanyakan masyarakat akan mengklasifikasikan para lelaki metroseksual kepada homo atau bencong. Pandangan seperti ini tidak dapat disalahkan karena masyarakat sudah membedakan definisi antara lelaki dan perempuan beserta dengan sifat masing-masing. Garis pembatas dan pembeda antara lelaki dan perempuan sangat jelas dan “seharusnya” tidak dilewati. Ketika para lelaki metroseksual hadir, masyarakat bukan menolakk, tapi mempertanyakan hakikat asli seorang lelaki.

Lelaki metroseksual diberi pandangan homo, karena para gay cenderung berpenampilan metroseksual. Sebagaimana dilansir oleh merdeka.com, seorang gay bernama Adi menjelaskan tentang ciri-ciri gay. Ia menjelaskan bahwa biasanya mereka lebih terlihat metroseksual, walaupun tidak selalu demikian. Secara psikologis, prilaku homo terfokus pada hasrat birahi lelaki atau cenderung kepada sex only. Terlepas dari seorang gay berperan sebagai “Top” atau “Bott”, agar mereka bisa mendapatkan pasangan sesuai dengan keinginannya, mereka harus terlihat sebaik mungkin. Salah satu caranya adalah dengan berpenampilan metroseksual.

Sementara itu, lelaki metroseksual dianggap sebagai bencong ketika tidak hanya tampilannya yang “menyerupai” perempuan, tapi perilakunya juga terlihat lebih feminin. Menyerupai disini, sebagaimana yang dilansir oleh detikforum, penampilan lelaki metroseksual cenderung lebih cantik. Penggunaan bedak tipis untuk menutupi noda di wajah, pernak-pernik aksesoris, dan pakaian yang warna warni menjadi alasan para lelaki metroseksual dianggap seperti perempuan. Istilah “ngondek” sering ditujukkan kepada lelaki metroseksual sebagai penggambaran bahwa mereka telah melewati batas pemisah antara lelaki dan perempuan.

Namun, judgement atau tuduhan “Homo atau Bencong” tidak bisa kita layangkan begitu saja. Para lelaki metroseksual hanya mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju dengan bermacam gaya dan tren. Kalo kata salah satu teman Mimin, lelaki metroseksual adalah para lelaki pemberani yang mampu menantang dunia. Ketika orang-orang berpandangan aneh, mereka tetap “santuy” dengan apa yang mereka yakini. Bagaimanapun tampilan mereka, lelaki tetap menjadi identitas utama. Terlepas dari berbagai macam perawatan yang mereka jalani, jakun mereka tetap tumbuh dan tidak bisa dibuang. Homo dan bencong hanya sebuah pandangan. Perihal seberapa “laki” mereka, hanya mereka yang tahu, karena standar kelakian seorang lelaki berbeda-beda.

2 tanggapan untuk “Lelaki Metrosexual: Homo atau Bencong?

  • 7 April 2020 pada 10:48
    Permalink

    Semangat terus nulisnya suamiku sayaaang :*

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *