google-site-verification=P7_xBqiVYiiiF-RKrUhnGci1YWarSOsyrjfxeEmvUFg

Masalah Poligami Islam: Ketidakadilan atau Pengkhianatan?

Masalah Poligami Islam: Ketidakadilan atau Pengkhianatan?

Masalah Poligami Islam: Ketidakadilan atau Pengkhianatan?

Masalah Poligami Islam: Ketidakadilan atau Pengkhianatan?, Poligami, sebuah kata yang dapat memicu perang dan pertumpahan darah. Bagi sebagian besar perempuan, poligami merupakan sebuah lambang ketidakadilan yang harus dihapuskan. Hal ini karena tidak sesuai dengan pri-kemanusiaan dan pri-keadilan. Secara kasat mata, poligami hanya memberi keuntungan pada lelaki dengan cara menambah istri. Sementara itu, perempuan harus merugi dan tersakiti karena suaminya tega membagi hati. Surga yang menjadi jaminan bagi istri yang ikhlas terhadap suaminya yang beristri dua, tiga atau, empat tetap tidak mampu merubah kata “pengkhiantan”. Surga yang digambarkan dengan sejuta keindahan, ternyata bukan surga seperti itu yang para perempuan rindukan.

Poligami menjadi sesuatu yang diperbolehkan dalam ajaran Islam. Katanya agama sempurna, katanya rahmatan lil alamin, katanya agama yang mengangkat perempuan, kok masih ada ketidakadilan? Jadi gini sobs, dalam menjawab pertanyaan seperti ini, kita perlu meluruskan persepsi bahwa Islam adil dan sempurna, yang membuatnya ada cela adalah kealpaan umatnya. Hanya karena ada seorang Muslim berbuat salah, bukan berarti Islam salah. Pola pikir General Judgment atau menyalahkan dengan men-generalisasi perlu dibuang dalam melihat sebuah peristiwa agar timbul keadilan yang sebenarnya.

So, jawabannya adalah ada keadilan dalam poligami dalam Islam. Hanya saja, sebagian lelaki yang berpoligami atau ingin berpoligami tidak mengerti dan tidak menerapkan makna keadilannya. Islam memperbolehkan poligami karena di dalamnya terdapat maslahat yang sangat besar bagi lelaki, perempuan, dan Islam. Bagi lelak:i syahwatnya dapat lebih terjaga karena mengurangi resiko berzina. Bagi perempuan: terjaga kehormatannya para perempuan yang belum menikah atau para janda (Kita bahas lebih dalam di artikel berikutnya ya sobs). Dan bagi Islam: keturunan yang dihasilkan dari poligami menambah jumlah dan kekuatan Muslim dalam menegakkan kalimat Allah. Meskipun ada maslahat yang besar, tetap saja terdapat mudhorot dalam poligami. Contohnya adalah kecemburuan yang dapat membawa masalah yang lebih besar dalam rumah tangga. Oleh karenanya, seorang lelaki yang ingin berpoligami harus memahami syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan.

Kita mulai dengan perintah seroang suami harus berlaku adil bagi istri-istrinya yang tertanam dalam QS. An Nisa ayat 3:

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَاء مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُولُواْ

“Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi ; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja.” (QS. An-Nisa’: 3)

Ayat di atas jelas menggarisbawahi bahwa dalam berpoligami syarat yang utama adalah mampu berlaku adil. Seorang lelaki dapat menikahi empat orang sekaligus jika dirinya mampu memenuhi syarat ini. Namun, ayat ini juga memberi rambu-rambu keras bahwa jika tidak mampu berbuat adil maka seorang lelaki hanya diperbolehkan menikahi 1 perempuan saja.

Secara tidak langsung ayat ini tidak hanya memperbolehkan tapi juga memberi larangan untuk menikahi lebih dari 1 perempuan. Sayangnya, kebanyakan lelaki hanya membaca dan mencerna sampai ke bagian diperbolehkannya saja. Rasa bahagia yang didapat karena diperbolehkan beristri lagi, membuatnya lupa kelanjutan ayat ini. Mereka tidak memperhatikan dan menelaah lebih dalam tentang makna adil dan dosa apabila tidak mampu berbuat adil. Rosulullah SAW telah memberi gambaran tentang suami yang tidak mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya:

مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ

Siapa yang memiliki dua orang istri lalu ia hanya memeprhatikan kepada salah seorang di antara keduanya, maka ia datang pada hari kiamat dalam keadaan badannya miring.” (HR. Abu Daud)

Lalu keadilan seperti apa yang harus dilakukan oleh seorang suami terhadap istri-istrinya? Para ulama telah bersepakat bahwa lelaki diperbolehkan poligami apabila dapat memberikan hak yang sama. Hak-hak ini meliputi nafkah lahir dan nafkah batin. Nafkah lahir meliputi tempat tinggal, pakaian, dan makanan. Sementara nafkah batin meliputi giliran tiap malam, kecenderungan, dan perhatian.

Masalah Poligami Islam: Ketidakadilan atau Pengkhianatan?
Jika ingin berpoligami maka kondisi fisik, keuangan, dan ilmu harus diperhatikan. Semuanya harus kuat dalam memenuhi hak-hak para istri

Rosulullah SAW telah mencontohkan tutorial berlaku adil terhadap istri-istrinya:

عن عَائِشَةُ رضي الله عنها قَالَتْ : ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لا يُفَضِّلُ بَعْضَنَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْقَسْمِ مِنْ مُكْثِهِ عِنْدَنَا ، وَكَانَ قَلَّ يَوْمٌ إِلا وَهُوَ يَطُوفُ عَلَيْنَا جَمِيعًا (امْرَأةً امْرَأةَ) فَيَدْنُو مِنْ كُلِّ امْرَأَةٍ مِنْ غَيْرِ مَسِيسٍ حَتَّى يَبْلُغَ إِلَى الَّتِي هُوَ يَوْمُهَا فَيَبِيتَ عِنْدَهَا

Aisyah berkata, “Rasulullah SAW tidak mendahulukan sebagaian kami di atas sebagian yang lain dalam hal jatah menginap diantara kami (istri-istri beliau), dan beliau selalu mengelilingi kami seluruhnya (satu persatu) kecuali sangat jarang sekali beliau tidak melakukan demikian. Maka beliau pun mendekati (mencium dan mencumbui) setiap wanita tanpa menjimaknya hingga sampai pada wanita yang merupakan jatah menginapnya, lalu beliau menginap ditempat wanita tersebut”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Keadilan Rosulullah SAW terhadap istri-istrinta terlihat dari cara beliau yang tidak membeda-bedakan satu dengan lainnya. Tidak ada yang didahulukan dan tidak ada yang diakhirkan, semuanya memliki hak yang sama. Rosulullah SAW tidak memperhatikan tampilan fisik setiap istrinya sehingga beliau memprioritaskan yang cantik dan meninggalkan yang kurang cantik.

Dalam hal ini, perkara timbangan rasa cinta yang dapat berubah-ubah secara alamiah, Islam telah memberikan jalannya sendiri. Dalam kitab Fiqih bernama Al Mausu’ah Al Fiqhiyah, para ulama telah bersepakat dalam hal ini:

قال العلماء: المراد الميل في القسم والإنفاق لا في المحبة، لما عرفت من أنها مما لا يملكه العبد

Dan berkata para ulama : Yang dimaksud adalah kecendrungan tidak adil dalam masalah giliran malam dan nafkah, bukan pada perasaan cinta, karena masalah perasaan termasuk perkara yang diluar kemampuan seorang hamba.”

Perkara rasa manusia tidak bisa mengatur untuk tetap berada di posisi yang seimbang. Karena hati bergerak sesuai dengan ketentuan Ilahi. Rosulullah pun ketika ditanya siapa perempuan yang paling dicintainya, beliau menjawab dengan pasti: Aisyah. Meskipun demikian, tidak ada satupun istrinya yang merasakan ketidakadilan.

Sobs, keadilan sangat sulit direalisasikan oleh lelaki seperti kita yang miskin akan ilmu agama. Apalagi, untuk (kalian) lelaki yang berpoligami dengan alasan istri sudah tidak cantik dan sexy lagi.

Allah SWT juga sudah mewanti-wanti dalam QS. An-Nisa pada ayat ke-129:

وَلَنْ تَسْتَطِيعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. An Nisa : 129).

Para ahli tafsir telah bersepakat tentang maksud kalimat “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian“. Tidak dapat adil disini merujuk pada seorang lelaki tidak dapat adil dalam membagi rasa. Namun, yang masih dapat diusahakan dan hukumnya wajib adalah adil dalam memenuhi setiap hak istri. Rasa yang berbeda tidak bisa dijadikan alasan dalam perbedaan menggauli para istri.

Sobs, adil dalam sebuah pernikahan merupakan hal yang sangat sulit. Ketika ijab sudah diqabulkan, maka sebuah tanggungjawab baru telah sampai pada pundak seorang lelaki. Baik buruknya seorang istri akan bergantung pada bagaimana seorang suami mendidiknya. Dosa seorang istri dapat menjadi dosa seorang suami ketika sang suami lalai dalam mengingatkan. Satu dosa dari 1 istri saja dapat menyeret kepada neraka, apalagi 4 istri yang semuanya banyak dosa. 1 istri saja seringkali merasa tidak adil dengan apa yang dilakukan suaminya apalagi 4 istri.

Dalam poligami, tidak hanya sebuah visi membangun peradaban Islami yang menjadi tujuan. Bukan hanya mengendalikan syahwat dari pada berzina yang menjadi alasan. Bukan hanya kebanggaan dan simbol kesuksesan seorang lelaki untuk disombongkan. Tapi, ada sebuah pertanyaan, seberapa mampukah seorang lelaki mampu berbuat adil ketika istrinya tidak hanya satu. Sayangnya, sebagian besar lelaki lupa menjawab pertanyaan ini dan melangkah begitu saja, atau mungkin tidak membaca sama sekali. Sehingga yang terjadi saat ini adalah meskipun Islam memperbolehkan dan menjanjikan keadilan poligami tetap dianggap merugikan para perempuan.

So sobs, jika kalian dalam kondisi muka pas-pasan, banyak hutang, penyakitan dan tidak perlah belajar ilmu agama, maka lebih baik kalian membuang jauh-jauh pikiran untuk berpoligami. Setia lah pada istrimu dan banyak-banyak bersyukur akan keberadaannya di sisimu. Bagi yang belum menikah, belajarlah untuk setia dengan tidak jelalatan mencari mangsa. Karena membangun rumah tangga bukan hanya perkara rasa tapi juga tentang surga dan neraka. Last, untuk kalian girls, mulailah untuk berpikir bahwa bukan Islam yang tidak adil tapi para pelaku poligamilah yang tidak mengerti dan tidak mampu berlaku adil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *