google-site-verification=P7_xBqiVYiiiF-RKrUhnGci1YWarSOsyrjfxeEmvUFg

Mengenal Digisexuality, Kebiasaan Bercinta dengan Teknologi

Mengenal Digisexuality, Kebiasaan Bercinta dengan Teknologi

Mengenal Digisexuality, Kebiasaan Bercinta dengan Teknologi, Kemajuan teknologi memang banyak membawa perubahan di setiap lini kehidupan. Kemudahan yang diberikan tidak hanya pada sektor informasi. Teknologi juga merubah warna manusia pada sisi kehidupan seksual. Bagi lelaki, istillah Video Call Sex (VCS) atau bercinta melalui panggilan video merupakan hal yang biasa dibicarakan. Aktifitas seksual seperti ini dalam dunia psikologi dan seksologi dinamakan Digisexuality atau Digiseksualitas. Digisexuality merupakan aktifitas seksual dengan menggunakan teknologi sebagai bahan perangsang. Neil McArthur, seorang profesor bidang filosofi Universitas Malicoba dan co-fouder dari “The Rise of Digisexuality, menyebutkan mereka biasanya bercinta secara online via snapchat, skype atau platform yang lain. Dr. Holly Richmod, Ph.D, seorang Psikolog Somatik, menjelaskan Orang-orang yang mengidap digisexuality memiliki kecenderungan untuk menuntaskan hasratnya secara online dari pada offline. Meskipun demikian, sebagian pengidap kelainan seksualitas ini mengaku bahwa mereka merasa depresi karena tidak bisa bercinta secara langsung.

Orang-orang, khususnya lelaki, dengan digisexuality menuntaskan hasrat seksualnya tidak harus dengan pasangannya, mereka dapat bercinta dengan perempuan-perempuan (terkadang lelaki) secara random. Mereka dapat ditemukan dengan mudah di sosial media, khususnya di grup-grup facebook yang berkonten dewasa. Ciri-cirinya mereka akan memposting gambar-gambar sensual dengan meninggalkan jejak kontak yang dapat dihubungi. “Butuh Kepuasan? chat me baby” begitulah kurang lebih redaksi kalimat yang dipakai lelaki digisexuality. Selain itu, mereka akan meng-invit atau mem-follow akun perempuan dengan penampilan menarik secara random. Tujuannya adalah untuk memulai pembicaraan dan berkenalan sambil disusupi konten-konten berbau seks. Meskipun terkesan murahan dan tanpa modal, ternyata banyak yang terbuai dan akhirnya becinta secara online. Setelah korban berhasil diracuni dengan kalimat-kalimat sensual, maka si lelaki akan mulai menstimulus diri dengan menyentuh bagian-bagian sensitifnya.

Video Call seperti yang telah dijelaskan di atas hanya satu jenis dari jenis-jenis digisexuality yang lain. Berikut Mimin share berbagai tipe yang lain. Let’s check this out.

1. Sexting

Sexting merupakan metode yang lebih sederhana dari pada VCS. Para pemain texting biasanya lebih mengandalkan fantasi yang ada di dalam pikiran liarnya. Kata-kata sensual selalu menjadi perangsang diri hingga tenggelam dalam kenikmatan. Sexting biasanya dilakukan oleh seorang lelaki dengan pasangannya sendiri atau dengan perempuan lain yang tidak dikenal. Modus operani yang dimainkan mudah ditebak. Biasanya dimulai dengan salah mengirim pesan, berkenalan, bertanya tentang status (jika janda para lelaki akan bersorak ria), memulai aksi, dan mendapat kenikmatan. Seringkali sexting juga berujung pada VCS, hal ini bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak.

2. Membokep

Menonton film dewasa juga dikategorikan sebagai digisexuality. Kemudahan akses informasi dapat digunakan dalam menelusuri konten-konten dewasa. Kebiasaan menonton film ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang hidup sendiri, seringkali juga oleh lelaki yang sudah beristri. Bahkan, dalam beberapa kasus ditemukan bahwa seorang suami lebih terangsang dengan media online dibandingkan istrinya sendiri. Bukan rahasia lagi bahwa hampir setiap lelaki pasti pernah menonton konten dewasa. Oleh karenanya mereka yang kecanduan dikategorikan sebagai lelaki digisexuality.

3. Fantasi Sex Toy

Mengenal Digisexuality, Kebiasaan Bercinta dengan Teknologi
Boneka menjadi salah satu alternatif dalam memuaskan hasrat seksual seorang lelaki

Sex toy atau boneka seks seringkali digunakan sebagai media pemuas diri. Sex toy merupakan dari turunan teknologi yang memudahkan lelaki dalam mencari jalan pintas pemuas diri. Biasanya sex toy dalam bentuk bagian organ atau full body. Benda mati ini akan terasa hidup bergantung dengan seberapa kuat tingkat fisualitas seorang lelaki.

Meskipun tidak hanya lelaki yang dapat terjangkit digisexuality, namun Mimin akan lebih mewanti-wanti para perempuan. Alasannya, lelaki merupakan makhluk yang suka berburu. Banyak perempuan yang menjadi korban digisexuality oleh lelaki yang hanya mencar kepuasan yang hampir tanpa modal. Oleh karenanya girls, Mimin hanya ingin mengingatkan, ketika seorang lelaki mulai mesum arah pembicaraannya, kalian harus bisa langsung memasang portal. Karena jika tidak, lambat laun kalian yang akan terbuai dan tenggelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *