google-site-verification=P7_xBqiVYiiiF-RKrUhnGci1YWarSOsyrjfxeEmvUFg

Urgensi Pendidikan Seks di Indonesia yang Dianggap Tabu

Urgensi Pendidikan Seks di Indonesia yang Dianggap Tabu

Urgensi Pendidikan Seks di Indonesia yang Dianggap Tabu

Urgensi Pendidikan Seks di Indonesia, Sobs, kalian pasti pernah belajar biologi dengan materi sistem reproduksi. Materi ini merupakan materi yang paling diminati oleh para siswa dan membuat malu-malu para siswi. Namun, bisa dipastikan bahwa seiisi kelas akan sangat memperhatikan pelajaran sambil tersipu malu. Gambaran alat reproduksi yang tertera di dalam buku terefleksikan dengan yang mereka punya dalam kehidupan nyata. Tidak hanya tersulut oleh gambar-gambar yang “erotis”, pembawaan guru dalam menjelaskan fungsi masing-masing organ menambah antusias siswa dalam belajar.

Why are the students so excited? Karena lingkungan mereka tidak pernah membuka sebuah topik obrolan tentang organ reproduksi atau proses kedewasaan. Hal ini dianggap tabu dan dianggap melanggar norma-norma kesopanan yang ada di masyarakat. Ketika diangkat dalam sebuah kelas yang ramai dengan lelaki dan perempuan, para siswa seolah mendapatkan angin segar. Hal yang dianggap “dusun” namun meninggalkan banyak pertanyaan dapat mereka diskusikan, meskipun dengan malu-malu karena takut dianggap mesum.

Materi reproduksi merupakan satu cabang dari sex education atau pendidikan seksual. Jenis pendidikan ini memang sangat minim diajarkan atau tidak diajarkan khususnya bagi orang-orang Indonesia. Alasannya sudah jelas karena melanggar norma kesopanan. Setiap anak yang tumbuh akan dididik agar santun dalam bertutur kata dan baik dalam berprilaku. Ajaran seperti ini memang tidak salah dan memang sangat perlu. Namun, faktanya pendidikan kepribadian menutup akses pengetahuan tentang pembelajaran seksual.

Achmad Hidir seorang Doktor Psikologi memberikan opininya yang berjudul “Ambiguitas Pendidikan Seks Di Indonesia” tentang alasan pendidikan seks dianggap tabu di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa dianggap tabu karena masyarakat Indonesia masih berpikiran sempit tentang makna seks. Seks dan pendidikan seks selalu merujuk pada aktifitas seksual yang mengarah pada persetubuhan lelaki dan perempuan. Padahal, makna pendidikan seks sangat luas jika hanya diartikan sebagai tutorial berhubungan badan. Di dalamnya terdapat banyak pembelajaran tentang kedewasaan, hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, kesehatan organ reproduksi, dan segudang materi lainnya.

Urgensi Pendidikan Seks di Indonesia yang Dianggap Tabu
Seorang anak yang masih di bangku SD dapat menjadi korban dan pelaku pelecehan seksual

Berkaitan dengan hal ini, maka muncullah sebuah pertanyaan, bagaimana Urgensi Pendidikan Seks di Indonesia di tengah pikiran sempit masyarakatanya? Mimin akan menjawabnya dengan sebuah berita yang diangkat oleh Kompas.com. Pada Rabu (26/2/2020) seorang siswi berinisial A yang masih duduk di bangku kelas 2 SD di Jambi mengalami pelecehan seksual. Pelakunya adalah 4 orang siswa yang merupakan kakak kelas A. Kronologinya, A dibawa ke dalam sebuah kelas kosong dan melakukan pelecehan dan kekerasan seksual secara bergantian. Setelah diperiksa oleh bidan, terbukti bahwa selaput dara A telah robek. Sayangnya, pihak sekolah tidak mempu bertanggungjawab atas kejadian ini.

Sobs, bayangkan 4 anak SD melakukan pelecehan dan kekerasan seksual. Mimin di usia mereka dulu, pipis diintipin temen aja malunya setengah mati, kok mereka bisa dan berani berbuat hal seperti itu. Kasus seperti ini tidak hanya dirasakan oleh A, tapi banyak kasus lainnya terjadi karena kurangnya pendidikan seksual yang diajarkan khususnya kepada anak-anak. 4 Anak pelaku pelecehan ini bisa dipastikan tidak mendapat pendidikan seks. Untuk anak-anak, pendidikan seks mengajarkan tentang batasan-batasan pergaulan antara lelaki dan perempuan, tentang bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh dilihat dan diperlihatkan, dan cara berprilaku terhadap lawan jenis. Karena keminiman pendidikan ini, banyak anak-anak, khususnya 4 bocah pelaku tadi, mencari sumber pembelajaran secara mandiri. Pada akhirnya mereka mendapatkan inspirasi dari film-film dewasa yang mereka tonton via gadget dan internet yang difasilitasi oleh orang tua mereka.

Kasus A yang mengalami pelecehan seksual hanya satu dari jutaan urgensi pendidikan seks yang ada di Indonesia. Seiring dengan anak-anak yang tumbuh ke tingkat remaja dan dewasa, internet semakin menjadi bagian dari kehidupan mereka. Permasalahannya, mental mereka belum dididik dan ditempa untuk dapat menyaring konten-konten negatif yang ada di dunia maya. Hasilnya, tidak hanya banyak remaja yang menonton film dewasa dan mempraktekkannya tapi banyak juga remaja yang mengkspos bagian tubuhnya sambil berjoged ria di sosial media. Tidak heran jika kasus pelecehan dan kekerasan seksual lainnya meningkat tajam dari tahun ke tahun.

Sobs, pendidikan seks bukan tentang tutorial berhubungan badan, tapi lebih tentang menjaga sebuah kehormatan dan kesehatan antara lelaki dan perempuan. Pendidikan seks tidak hanya ditujukkan untuk orang tua kepada anak-anaknya, tapi juga untuk generasi remaja aseperti kita (kita? hehe). Menjaga diri tidak harus dengan belajar ilmu bela diri, bisa juga dengan banyak tahu, khususnya tentang pengetahuan seksual. Semakin kita tahu tentang pendidikan seks, semakin kita dapat menjaga diri dari segala macam jenis bahaya seksual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *